Karya: Miftahul Arzak
Dapatkan diToko-toko terdekat, mulai 5 Oktober 2011
Prolog: Sebuah Surat Kecil untuk Mengenang Mereka. Apa kabar semuanya? Semoga baik-baik saja, saat ini aku menuliskan kisah perjalanan, petualangan fisik dan jiwa saat mulai melakukan penelitian di daerah NTB. Ada beberapa pergolakan yang saat itu aku rasakan. Saat mulai mengenal pergolakan jiwa, dan fisik. Aku mulai tersadar bahwa diluar sana, ada seorang anak yang sebaya dengan aku, umurnya juga hampir sama. Anak itu kini masih sama dengan saat itu, tiap harinya mengais sampah, anak itu memulai belajar akan arti kehidupan dengan aktivitasnya, belajar bersabar dari kesehariannya, dan belajar mengerti akan adanya kelas sosial. Nah, dilain sisi aku juga sempat mengenal seseorang, aku lupa siapa namanya!, tapi itu tidaklah penting. Anak itu memiliki tubuh yang kecil, rambutnya bergelombang, kulitnya hitam, dan tiap harinya selalu membawa tongkat saat pergi ke sekolah. Umurnya kini mungkin telah 20 tahun, dan sebaya dengan ku. Tiap harinya dia harus berangkat ke sekolah sejauh 2 KM dengan mata yang tidak dapat melihat. Kalau yang ini beda lagi, saat perjalanan pulang dari kegiatan pembuatan buku trafficking anak di Bogor pada tahun 2008 lalu, aku bersama teman-teman menuju kejakarta menggunakan kereta. Ada anak kecil yang kira-kira umurnya masih 6 tahunan, dia tidak memiliki tangan kanan, satu mata kirinya tidak melihat, dan dengan nada kecil sambil digendong oleh ibunya dia mulai berbicara “minta..minta”. Ada beberapa kegalauan ku bersamaan dengan apa yang saat itu aku rasakan. Aku sadar tidak merasakan apa yang mereka rasakan. Aku selalu berbicara lantang, bahkan hingga mengatakan “aku melihat”. Saat aku melihat anak kecil dikereta itu, aku sangat sedih akan apa yang aku lakukan saat mengikuti kegiatan pembelaan hak anak sedangkan aku tidak merasakan susahnya mereka, aku malu saat mengingat bahwa masih ada anak yang bekerja disaat teman-temannya menuju kesekolah, dan aku sangat geram saat mengingat diriku bersama teman-teman pergi kesekolah menggunakan kendaraan, namun dilain sisi ada anak yang menggunakan tongkat dengan mata yang tidakdapat melihat, dan harus berjalan hingga 2 km. Ada beberapa pelajaran, ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan yang saat itu aku temukan. Selamat bergolak dengan pikiran kalian, selamat mencintai apa yang anda miliki, dan temukan semuanya saat anda membaca bait demi bait semangat dari mereka. Salam,
Miftahul Arzak
Prolog:
Sebuah Surat Kecil untuk Mengenang Mereka.
Apa kabar semuanya? Semoga baik-baik saja, saat ini aku menuliskan kisah perjalanan, petualangan fisik dan jiwa saat mulai melakukan penelitian di daerah NTB. Ada beberapa pergolakan yang saat itu aku rasakan.
Saat mulai mengenal pergolakan jiwa, dan fisik. Aku mulai tersadar bahwa diluar sana, ada seorang anak yang sebaya dengan aku, umurnya juga hampir sama. Anak itu kini masih sama dengan saat itu, tiap harinya mengais sampah, anak itu memulai belajar akan arti kehidupan dengan aktivitasnya, belajar bersabar dari kesehariannya, dan belajar mengerti akan adanya kelas sosial.
Nah, dilain sisi aku juga sempat mengenal seseorang, aku lupa siapa namanya!, tapi itu tidaklah penting. Anak itu memiliki tubuh yang kecil, rambutnya bergelombang, kulitnya hitam, dan tiap harinya selalu membawa tongkat saat pergi ke sekolah. Umurnya kini mungkin telah 20 tahun, dan sebaya dengan ku. Tiap harinya dia harus berangkat ke sekolah sejauh 2 KM dengan mata yang tidak dapat melihat.
Kalau yang ini beda lagi, saat perjalanan pulang dari kegiatan pembuatan buku trafficking anak di Bogor pada tahun 2008 lalu, aku bersama teman-teman menuju kejakarta menggunakan kereta. Ada anak kecil yang kira-kira umurnya masih 6 tahunan, dia tidak memiliki tangan kanan, satu mata kirinya tidak melihat, dan dengan nada kecil sambil digendong oleh ibunya dia mulai berbicara “minta..minta”.
Ada beberapa kegalauan ku bersamaan dengan apa yang saat itu aku rasakan.
Aku sadar tidak merasakan apa yang mereka rasakan.
Aku selalu berbicara lantang, bahkan hingga mengatakan “aku melihat”.
Saat aku melihat anak kecil dikereta itu, aku sangat sedih akan apa yang aku lakukan saat mengikuti kegiatan pembelaan hak anak sedangkan aku tidak merasakan susahnya mereka, aku malu saat mengingat bahwa masih ada anak yang bekerja disaat teman-temannya menuju kesekolah, dan aku sangat geram saat mengingat diriku bersama teman-teman pergi kesekolah menggunakan kendaraan, namun dilain sisi ada anak yang menggunakan tongkat dengan mata yang tidakdapat melihat, dan harus berjalan hingga 2 km.
Ada beberapa pelajaran, ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan yang saat itu aku temukan. Selamat bergolak dengan pikiran kalian, selamat mencintai apa yang anda miliki, dan temukan semuanya saat anda membaca bait demi bait semangat dari mereka.
Salam,
Miftahul Arzak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar